Tangisan Kartini
Posted on April 25th, 2007 in Current Affairs
Tangisan Kartini ketika lahir adalah air mata bahagia orangtuanya. Seiring waktu ia memperjuangkan apa yang disebut emansipasi wanita dan menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di negeri ini.
Perempuan Indonesia banyak berjuang terutama untuk bertahan dalam kehidupan mereka masing-masing dan sebagian dari mereka berhasil dan mampu berperan ganda dalam karir maupun rumah tangga. Tak terkecuali para buruh migran perempuan atau yang sering disebut TKW. Keinginan untuk dapat hidup lebih baik membawa mereka pada perjuangan penuh derita di negeri orang. Tak semua memang mengalami penderitaan yang mahadahsyat tetapi kita juga tak dapat menutup mata bahwa tak sedikit dari TKW kita pulang dalam keadaan yang tak manusiawi, entah itu penuh luka penganiayaan ataupun menjadi jasad setelah berbulan tak bernyawa lagi.
Ketika gw menyaksikan berita tadi malam di mana jenazah seorang Indarwati (TKW asal Malang) pulang ke pangkuan orang tuanya setelah meninggal dunia sejak 6 November tahun lalu. Hati ibu mana yang tak teriris menyaksikan nasib putri kesayangan dalam kondisi seperti itu??? Indarwati adalah korban terakhir tapi selama sistem perlindungan terhadap buruh migran seperti sekarang, Indarwati2 berikutnya akan menyusul bahkan dengan kondisi yang lebih menyayat hati.
Ini bukan kali pertama, kedua, keseribu yang terjadi terhadap TKW kita. Belum lagi yang pulang dalam keadaan luka-luka, hamil di luar nikah dan mengalami penolakan dari lingkungannya atau kelainan psikis yang tanpa ada kepedualian dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Melihat kondisi ini, tentu kita akan melihat bias-bias emansipasi. Di manakah tanggung jawab para pria ketika istri, ibu, kakak atau adik mereka harus mengais rejeki di negeri orang? Apakah ini yang disebut emansipasi? Pengamatan gw ini mungkin hanya dalam konteks domestik di mana peran keluarga dibagi (soalnya kalo bicarain TKW terbunuh salah siapa, ntar ga kelar2 kan. Yang pasti salah pemerintah!!!). Sudah sebegitunyakah perjuangan perempuan sampai harus meninggalkan keluarga demi perbaikan nasib? Sekarang mungkin tidak seperti jaman dulu di mana perempuan dilarang bersekolah. Sekarang adalah jaman di mana banyak masyarakat Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, kurang mendapatkan akses pada pendidikan. Keadaan ini menandakan bahwa situasi sekarang tidak lebih baik dibanding jaman Kartini dulu. Pendidikan yang rendah tetapi dengan banyaknya penjual mimpi dan gaya hidup (you can blame the medias on this) hanya membuat orang-orang cenderung berbuat apa saja tuk mencapai mimpi itu. TKW salah satunya. Mimpi mereka agar anak bersekolah, bisa makan enak, punya rumah adalah mimpi indah. Untuk itu mereka beranikan diri bertarung dengan resiko dipukulin majikan, diperkosa bahkan dibunuh.
Perjuangan para Kartini sekarang tak lebih dari perjuangan mempertahankan hidup. Di dalam terminologi emansipasi, mereka bangkit maju untuk kehidupan yang lebih baik.
Andaikan saja Kartini hidup, tangisnya pastilah air mata duka ibu Pertiwi.
Selamat jalan, Indarwati, selamat jalan Nasiroh, selamat jalan semua pahlawan migran yang berjuang demi negara untuk memperbanyak devisa.
Salam pembebasan
June 3rd, 2007 8:59 pm
Indonesia itu emang terlalu complicated masalahnya. Kalo bahasa MPS, ada penjelasan struktural untuk kasus TKW INA. Banyak variabel ( faktor) yg saling b’hub dan tidak bisa di judge yang mana variabel independent dan dependent-nya. semuanya bisa saling mempengaruhi. Faktor2 tsb a.l karena jumlah penduduk INA yg sagt besar, faktor pendidikan yg rendah, kurang skill, kurangnya lap. kerja di INA, standar gaji diluar negri yg lebih tinggi, kemiskinan, tuntutan ekonomi, bahkan sampai kepada isu komoditi manusia dan eksploitasi kaum perempuan… duuhhh cape ya, ngomongin gituan??